
Afriani
(2014) dalam tesisnya “Proteus mirabilis
adalah bakteri Gram negatif anggota famili Enterobacteriaceae
yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Bakteri ini
berbentuk batang (1.5 x 2.0 μm), tidak membentuk spora, bergerak sangat aktif
dengan flagella peritrik (Jacobsen et al. 2008). Bakteri P. mirabilis tumbuh optimum pada suhu 35-37 °C, berbentuk batang
pendek dengan 6-10 flagella peritrik jika ditumbuhkan di dalam media cair
(Manos dan Belas 2006). Karakteristik biokimia bakteri ini umumnya
memfermentasi xilosa, namun tidak memfermentasi laktosa, manitol, dulsitol,
adonitol, sorbitol, arabinosa dan rhamnosa. Uji oksidase negatif, uji urease
positif dan uji lisin dekarboksilase negatif. P. mirabilis memberi reaksi positif terhadap uji sitrat dan
ornithin dekarboksilase serta menghasilkan hidrogen sulfida (O’hara et al.
2000)”.
Klasifikasi (Wachida,
2010)Kingdom : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Class : Gamma Proteobacteria
Order : Enterobacteriales
Family : Enterobacteriaceae
Genus : Proteus
Species : Proteus mirabilis
Bakteri
P. mirabilis sebagai salah satu flora
normal ditemukan hidup pada saluran pencernaan mamalia dalam jumlah yang kecil (Collins
dan Gibson 1999 dalam Afriani 2014). Pada Mufida (2010), bahwa bakteri ini
sering ditemukan di tanah dan air.
P. mirabilis
memiliki peranan untuk mencegah kolonisasi bakteri lain melalui kompetisi
bakteri dan mencegah melekatnya mikroorganisme patogen pada mukosa usus
(Collins dan Gibson, 1999 dalam Afriani, 2014). Selain itu Proteus mirabilis merupakan salah satu bakteri enteropatogen
kelompok Gram negatif dari famili Enterobacteriacea
yang dapat menyebabkan diare. Silham (2012) dalam Afriani (2014) melaporkan
dari 518 sampel feses anak penderita diare terdapat sekitar 94 isolat Proteus dengan persentase Proteus mirabilis sebesar 91.5 % dan Proteus
penneri sebesar 8.5%. Untuk dapat menyebabkan infeksi, mikroorganisme
melibatkan beberapa tahap, yaitu dimulai dengan pelekatan/adhesi pada permukaan
sel inang, dan selanjutnya dapat terjadi invasi dan menyebar secara local/sistemik.
Kemampuan bakteri untuk melekat pada sel inang diperantai oleh molekul adhesi
yang terdapat pada bakteri dan reseptor yang terdapat pada sel inang. Molekul
adhesi pada bakteri bisa terletak di pili atau di outer membrane protein (OMP). Pelekatan bakteri ke sel inang ini
bersifat spesifik. Spesifitas ini berhubungan dengan ketersediaan reseptor yang
sesuai dan hal ini akan menentukan bagian tubuh yang akan diinfeksi oleh
bakteri (Salyers, 2002).
Sumber
utama terjadinya infeksi Proteus
mirabilis pada manusia karena mengonsumsi produk asal ternak yang
terkontaminasi, misalnya dengan memakan telur atau daging ayam yang
terkontaminasi dan tidak dimasak sempurna atau setengah matang, maka akan
mengakibatkan gastroenteritis pada manusia (Cherry WB et al.1946 dalam Afriani
2014).
Mengurangi
keberadaan Proteus mirabilis pada
produk asal ternak secara signifikan juga akan mengurangi paparan bakteri
tersebut pada manusia. Salah satu pengendalian yang penting adalah menjaga
kebersihan peternakan. Sebaiknya telur, daging, susu, dan bahan olahan lainnya
diolah dengan baik dengan cara dimasak sampai matang dan apabila belum diolah
disimpan pada lemari pendingin untuk keamanan produk peternakan (Blossom C,
2014 dalam Mufida, 2010). Langkah pengobatan yang paling sering digunakan untuk
mengendalikan penyakit diare akibat P.
mirabilis adalah dengan pemberian antibiotik yang dapat menghambat
pertumbuhan dan atau membunuh bakteri patogen tersebut. Namun, beberapa
penelitian melaporkan bahwa saat ini penggunaan antibiotik untuk mengendalikan
bakteri patogen ini menjadi tidak efektif digunakan karena timbulnya resistensi
P. mirabilis terhadap antibiotik. Afriani
(2014) menyatakan beberapa isolat P.
mirabilis multiresisten terhadap sepuluh jenis antibiotik, yaitu:
ampicillin, gentamicin, ceftazidime, cefotaxime, cefuroxime, cefalothin, cefepime,
piperacillin, trimethoprim atau sulfamethoxazole dan ciprofloxacin. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa beberapa isolat P. mirabilis memiliki gen ESBL (extended-spectrum β- lactamases)
yang berperan dalam peningkatan resistensi P.
mirabilis terhadap antibotik golongan β- lactam.
Afriani (2014) menyatakan, bakteri
P. mirabilis yang resisten antibiotik
dapat mencemari air dan makanan. Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi maka banyak penelitian dilakukan untuk mencari dan
mengetahui agen biokontrol yang bersifat ramah lingkungan untuk mengatasi
pencemaran air dan makanan oleh P.
mirabilis, salah satunya dengan penggunaan fag litik. Penggunaan fag litik
dalam mengontrol pertumbuhan bakteri patogen manusia merupakan suatu metode
alternatif alami yang bersifat ramah lingkungan. Sumber fag yang paling umum
digunakan untuk mereduksi bakteri patogen pencemar air dan makanan dapat
diisolasi dari tinja, berbagai macam bahan pangan, air, limbah, tanah, dan
jaringan tubuh yang terinfeksi. Beberapa fag telah diaplikasikan sebagai biokontrol
pencemaran makanan, diantaranya fag litik Enterobacter
sakazaki yang diaplikasikan pada susu formula bayi, fag litik Salmonella dan Campylobacter pada karkas ayam, fag litik FR38 yang diaplikasikan
pada sosis, susu dan air mampu menurunkan cemaran Salmonella P38 indigenous secara
signifikan.
Referensi:
Salyers AA, Whitt D. Bacterial
Pathogenesis: bacterial strategies for envanding or surviving the defense
systems of the human body.2th ed. Washington DC: ASM Press 2002; 115-127.
Afriani Rahmi, Tesis Karakterisasi
Fag Litik Proteus mirabilis Resisten Antibiotik Asal Feses Penderita Diare http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71383
.2014.
Diaskes pada 29 Mei 2015, pukul 7.17 WIB
Bobby Henderson, Colorized electron
micrograph of a P. Mirabilis swarmer cell. http://www.venganza.org/2007/01/a-scientist-converts-evidence-of-his-children/.
2007. Diaskes pada 7 June 2015, pukul 6.55 WIB
Mufida
Diana Chusna, Jurnal Identifikasi Protein Hemaglutinin Pili Proteus Mirabilis P 355. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=72509&val=4914
. 2010. Diaskes
pada 29 Mei 2015, pukul 8:39 WIB
Wachida, Proteus Mirabilis Penyebab ISK http://blog.ub.ac.id/wachida/sample-page/proteus-mirabilis-penyebab-infeksi-saluran-kemih-isk-pada-hewan/ .2010. Diaskes pada 29 Mei
2015, pukul 7.29 WIB